Home » Posts filed under Jakarta
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Udar Mengaku Seret Nama Jokowi karena Kecewa
Posted by Unknown on Jumat, 23 Mei 2014
Filed within
Jakarta

Jakarta - Mantan Kepala
Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengaku, kerap
menyeret-nyeret nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi
lantaran kecewa karena dicopot sebagai Kadishub.
"Tetapi saya itu kecewanya dengan Pak Jokowi itu karena tadi, tidak mengayomi, begitu ada masalah kok malah saya yang diturunkan (dicopot)?" kata Udar, di Jakarta, Jumat (23/5).
Tak ada angin, tak hujan, Udar Pristono tiba-tiba datang ke MK bersama anggota tim penasihat hukumnya, Razman Arif Nasution. Kedatangannya bukan untuk mendaftarkan gugatan pengujian undang-undang tetapi, untuk bertemu dengan pengacaranya yang lain yaitu Eggi Sudjana yang diketahui anggota tim sukses pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Mengenai posisi Eggi sebagai tim sukes, Udar tidak berbicara banyak, dia hanya menegaskan kalau kasus yang membelitnya hingga dirinya kerap menyebut-nyebut Jokowi bukan upaya dari kampanye hitam. "Tidak, ini bukan politisasi," katanya.
Dirinya juga mengakui, berdasarkan Surat Ketetapan (SK) Gubernur No 28-2 yang melimpahkan wewenang Gubernur selaku Pengguna Anggaran (PA) kepada dirinya selaku kadis yang menyelenggarakan proyek pengadaan dan peremajaan bus TransJakarta.
"Isinya penetapan saya sebagai PA dengan tugas-tugas menjalankan visi-misi Gubernur, begitu," ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Jaksa Agung Basrief Arief menegaskan, kasus dugaan korupsi pengadaan dan peremajaan bus TransJakarta tidak mengarah ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi.
"Jadi sampai dengan (pemeriksaan) kemarin, belum atau boleh dikatakan tidak menyangkut kepada Pak Jokowi. Itu yang perlu ditegaskan," kata Basrief.
Basrief Arief menjelaskan, Udar Pristono selaku Kadishub DKI Jakarta dalam pelaksanaan proyek tersebut merupakan PA karena, gubernur telah mengalihkan wewenangnya sebagai PA kepada Kadis. Artinya, tanggung jawab gubernur putus.
"Udar sendiri sebagai PA itu yang menjadi persoalan. Jadi dialah yang menentukan," katanya.
Dalam berita acara pemeriksaan (BAP), ujarnya, Udar Pristono memang mengakui mengenal dengan Michael Bimo Putranto yang merupakan mantan tim sukses Jokowi di Solo. Namun, perkenalan Udar dengan Bimo tidak terkait dengan pengadaan dan peremajaan TransJakarta.
Mengenai hal itu, Basrief meminta, penanganan kasus TransJakarta oleh pihaknya jangan dipolitisasi apalagi dikaitkan dengan proses Pilpres 2014 mengingat, Jokowi merupakan capres yang diusung koalisi parpol PDI Perjuangan (PDI-P), Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI.
"Jadi itu keterangan daripada Udar sendiri, kemudian dikaitkan juga dengan perkenalan dia melalui Bimo. Keterangan Pak Udar kemarin yang saya baca dari BAP, bahwa betul dia kenal sama Bimo tapi tidak ada sangkut pautnya dengan TransJakarta," jelasnya.
Dikatakan, pihaknya bekerja secara profesional dan proporsional dalam mengusut kasus tersebut. Pihaknya menangani kasus TransJakarta dengan semangat penegakan hukum bukan mengakomodir kepentingan pihak-pihak tertentu.
"Jadi tidak ada sangkut-sangkutan politik segala macam. Kita profesional dan proporsional, berikan kesempatan kepada penyidik untuk mengungkapkan kasus ini. Saya tegaskan kepada penyidik untuk tidak terpengaruh terhadap politik saat ini kita betul-betul dalam rangka penegakan hukum, itu saja," ujarnya.
Sumber
"Tetapi saya itu kecewanya dengan Pak Jokowi itu karena tadi, tidak mengayomi, begitu ada masalah kok malah saya yang diturunkan (dicopot)?" kata Udar, di Jakarta, Jumat (23/5).
Tak ada angin, tak hujan, Udar Pristono tiba-tiba datang ke MK bersama anggota tim penasihat hukumnya, Razman Arif Nasution. Kedatangannya bukan untuk mendaftarkan gugatan pengujian undang-undang tetapi, untuk bertemu dengan pengacaranya yang lain yaitu Eggi Sudjana yang diketahui anggota tim sukses pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Mengenai posisi Eggi sebagai tim sukes, Udar tidak berbicara banyak, dia hanya menegaskan kalau kasus yang membelitnya hingga dirinya kerap menyebut-nyebut Jokowi bukan upaya dari kampanye hitam. "Tidak, ini bukan politisasi," katanya.
Dirinya juga mengakui, berdasarkan Surat Ketetapan (SK) Gubernur No 28-2 yang melimpahkan wewenang Gubernur selaku Pengguna Anggaran (PA) kepada dirinya selaku kadis yang menyelenggarakan proyek pengadaan dan peremajaan bus TransJakarta.
"Isinya penetapan saya sebagai PA dengan tugas-tugas menjalankan visi-misi Gubernur, begitu," ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Jaksa Agung Basrief Arief menegaskan, kasus dugaan korupsi pengadaan dan peremajaan bus TransJakarta tidak mengarah ke Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi.
"Jadi sampai dengan (pemeriksaan) kemarin, belum atau boleh dikatakan tidak menyangkut kepada Pak Jokowi. Itu yang perlu ditegaskan," kata Basrief.
Basrief Arief menjelaskan, Udar Pristono selaku Kadishub DKI Jakarta dalam pelaksanaan proyek tersebut merupakan PA karena, gubernur telah mengalihkan wewenangnya sebagai PA kepada Kadis. Artinya, tanggung jawab gubernur putus.
"Udar sendiri sebagai PA itu yang menjadi persoalan. Jadi dialah yang menentukan," katanya.
Dalam berita acara pemeriksaan (BAP), ujarnya, Udar Pristono memang mengakui mengenal dengan Michael Bimo Putranto yang merupakan mantan tim sukses Jokowi di Solo. Namun, perkenalan Udar dengan Bimo tidak terkait dengan pengadaan dan peremajaan TransJakarta.
Mengenai hal itu, Basrief meminta, penanganan kasus TransJakarta oleh pihaknya jangan dipolitisasi apalagi dikaitkan dengan proses Pilpres 2014 mengingat, Jokowi merupakan capres yang diusung koalisi parpol PDI Perjuangan (PDI-P), Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI.
"Jadi itu keterangan daripada Udar sendiri, kemudian dikaitkan juga dengan perkenalan dia melalui Bimo. Keterangan Pak Udar kemarin yang saya baca dari BAP, bahwa betul dia kenal sama Bimo tapi tidak ada sangkut pautnya dengan TransJakarta," jelasnya.
Dikatakan, pihaknya bekerja secara profesional dan proporsional dalam mengusut kasus tersebut. Pihaknya menangani kasus TransJakarta dengan semangat penegakan hukum bukan mengakomodir kepentingan pihak-pihak tertentu.
"Jadi tidak ada sangkut-sangkutan politik segala macam. Kita profesional dan proporsional, berikan kesempatan kepada penyidik untuk mengungkapkan kasus ini. Saya tegaskan kepada penyidik untuk tidak terpengaruh terhadap politik saat ini kita betul-betul dalam rangka penegakan hukum, itu saja," ujarnya.
Sumber
Olga Syahputra Kembali Koma?
Jakarta Para sahabat dan fans Olga Syahputra menggelar doa khusus dalam acara musik Dahsyat yang biasanya dipandu Olga. Kondisi Olga kembali memburuk?
Kondisi Olga Syahputra belakangan dikabarkan terus membaik selama dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura, sejak dua pekan lalu. Namun meski begitu, hingga kini Olga belum bisa dipulangkan ke Tanah Air. Para sahabat Olga pun belum diperbolehkan membesuk.
Sementara itu, dalam acara musik Dahsyat edisi Jumat (23/5/2014), presenter yang juga rekan-rekan Olga di acara tersebut bersama fansnya menggelar doa khusus untuk cowok 31 tahun tersebut. Doa yang dipimpin oleh Raffi Ahmad, mendoakan Olga lekas diberi kesembuhan supaya bisa kembali lagi menjadi presenter dan bisa menghibur masyarakat di Tanah Air.
"Berikanlah kekuatan untuk Olga agar bisa kembali lagi ke sini dan menghibur masyarakat Indonesia," kata Raffi dalam doanya, diamini oleh Ayu Dewi, Uya Kuya dan seluruh penonton.
Saat Raffi Ahmad mendoakan Olga, salah satu penonton ada yang sampai menitikkan air mata. Terlihat betapa Olga dirindukan para penggemarnya.
Sempat tersiar kabar kalau Olga Syahpurta masih dalam keadaan koma meski dua minggu dirawat di Singapura.
"Papanya Olga lagi di Singapura. Saya tanya bagaimana di sana? Beliau bilang, 'doakan yah, alhamdulillah membaik keadaannya. Tapi Olga belum bisa ditengok'," ungkap kekasih Nagita Slavina itu.(Fei/Mer)
Kaesang, Anak Bungsu Jokowi, Heran Ayahnya Diserang Dengan Isu SARA
Posted by Unknown on
Filed within
Jakarta,
Seputar Pemilu

Jakarta, – Anak capres Jokowi, Kaesang Pengarep W. Sepertinya juga gerah dengan banyaknya rumor miring yang ditujukan kepada ayahnya. Anak bungsu Jokowi ini dalam akun facebooknya menulis curahan hati (curhat), mulai dari susahnya jadi anak capres hingga menyebut para pembuat gosip tak kreatif.
Baru-baru ini Kaesang menulis status facebook yang cukup menggelitik. Menanggapi isu SARA yang mendera bapaknya, Kaesang mengaku heran.
“Keturunan Cina??? Kalo keturunan cina knapa gw item?? #kreatifDikitygBikinGosip,” tulis Kaesang 20 April 2014 silam.
Kaesang memang jarang terlihat mengkampanyekan ayahnya. Sekilas Anda tak akan melihat atribut Jokowi di akun facebooknya. Hanya dalam kolom fanpage, dia menyukai dua laman ayahnya. Itu pun tanpa meninggalkan komentar.
Anak Jokowi ini belakangan memang galau soal kampanye hitam bapaknya. Dia merasa dalam posisi yang serba salah.
“Kalo di tanggapi disangkanya gak bisa ngontrol emosi, w diam aj disangka nya gak sayang sama ortu. w no commen di sangkanya gak peduli m bokap. #yg bikin berita gak kreatif bgt toh,” curhatnya.
Kaesang sekarang sedang menempuh studi di Singapura. Hidup jauh dari orang tua, menjadikan media sosial alat yang ampuh mengobati rasa kangennya.
Kaesang belakangan terlihat mengunggah sejumlah status soal orang tuanya. “Ibu, aku kangen”tulisnya. Yang menggelitik adalah statusnya saat curhat soal telepon kepada ayahnya. “Mau menelepon bapak sendiri kayak mau menelepon Obama.”
Kehidupan keluarga Jokowi memang jarang jadi pemberitaan. Jokowi menikah dengan Iriana Rabu 24 Desember 1986. Pasangan yang terpaut umur 2 tahun ini dikaruniai tiga orang anak yakni Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep. (Jafar Sodiq Assegaf/JIBI/solopos.com/bh).
Bersikap Adil Terhadap Jokowi
Posted by Unknown on Selasa, 29 April 2014
Filed within
Jakarta,
Seputar Pemilu

Kalau direnungkan secara jernih, dengan sikap egaliter dalam memandang orang lain, bagaimana bisa seorang warga negara biasa, yang sama dengan kita, tiba-tiba disalahkan secara ramai-ramai dan diminta bertanggung jawab atas suatu perkara yang bukan kesalahannya?
Jokowi itu warga negara merdeka dan boleh tidak berpikir mengenai apa yang berada di luar domain politik yang ruwet ini. Dilihat dari sikap, pemikiran, gaya hidup, dan ungkapan-ungkapan kebahasaannya, kita tahu ia hidup tanpa pretense yang bukan-bukan.
Pernahkah ia (seharusnya “beliau”) menginginkan kita menjadikannya political hero di tengah suasana politik yang sumpek, macet-cet, bau busuk korupsi besar-besaran, tanpa kesegaran, dan tanpa jalan keluar ini?
Tidak. Ia tak pernah berambisi menjadi apa yang bukan dirinya. Ia belum cukup pengalaman untuk berlagak sok pemimpin. Keluguannya otentik dan tulus. Keluguan macam itu mahalnya minta ampun. Ini sikap, gaya hidup, dan karakter yang tak terbeli dan memang tak dijual.
Pernahkah Jokowi membujuk-bujuk orang banyak agar mereka begitu antusias menyayanginya, sampai pada tingkat histeris seperti yang terjadi belakangan ini?
Tidak. Ia tak pernah berbuat senista itu. Hal-hal seperti itu hanya bisa dilakukan para tokoh politik yang tua-tua, yang kenyang kemegahan masa lalu dan masih ingin menikmatinya terus menerus.
Apakah semua fenomena yang terjadi di media, yang begitu hiruk pikuk itu, “buatan” Jokowi?
Bukan. Histeria massa yang terjadi di lapis bawah dalam masyarakat kita itu, niscaya tak akan sampai seluas itu kalau orang-orang media tidak ikut “histeris” dan haus akan pahlawan pujaan. Kekuatan besar yang membuat ini semua adalah media.
Apakah Jokowi pernah berharap agar dia diperlakukan seperti orang suci dalam politik? Atau sejenis “pahlawan” yang baru tampil?
Tidak. Jokowi itu sebuah kitab terbuka. Kita bisa membaca apa yang tertulis di luar, kata-katanya, tindakannya, bahasa tubuhnya, senyumnya, niscaya sama dengan apa yang tertulis di dalam, yang berhubungan dengan isi hatinya, cita-citanya, dan aspirasinya. Ia tak menyembunyikan suatu keculasan, atau kelicikan.
Bagaimana ia bisa melejit seperti roket dalam waktu pendek dan begitu berwibawa di mata para pengagumnya, sehingga semua kritik kepadanya dilawan habis oleh pengagum-pengagum fanatik itu?
Patut dicatat, ini bukan salah Jokowi. Bukan pula manipulasi politik untuk membius para pengagum.
Fanatisme yang begitu meluas, hampir secara dadakan ini, bisa ditelusuri latar belakang psikologi politiknya. Kita tahu, semua politikus di Jakarta, yang mapan-mapan tadi, tampil dengan gaya kelas atas yang tak nyambung dengan gaya rakyat pada umumnya. Jokowi kebalikannya; ia mewakili tampang rakyat jelata dan dengan sendirinya dipuja-puja. Itu matematika politik biasa.
Puja-memuja ini salah atau benar, itu soal lain. Itu isu politik lain. Namun, mengenai gaya konvensional, sok kelas atas, ke mana-mana berseragam tapi kadang berlagak populis, ini parah. Kecuali gaya itu memuakkan rakyat pada umumnya, sikap populis tadi tidak matching sama sekali dengan penampilan mereka. Ini kemunafikan politik.
Tidak Adil
Kita tahu, kemunafikan umum sudah tak bisa disembunyikan lagi. Rakyat tahu itu semua. Tokoh-tokoh bicara pemberantasan korupsi, antikorupsi. Namun, pada saat yang sama mereka korup luar biasa. Orang merasa menemukan obat yang baik. Obat itu Jokowi.
Pilihan baru dan alternatif yang dianggap baik itu ternyata tidak mampu mengangkat perolehan suara PDIP dalam pileg lalu. Semua orang, ahli-ahli politik dan para politikus, ramai-ramai menyalahkan Jokowi. Begitu juga media. Mereka semua sama emosionalnya dengan rakyat yang menjagokan Jokowi.
Jokowi yang “turba” ke mana-mana, dadakan, mengejutkan, dan berkomunikasi dengan rakyat dalam bahasa rakyat, beberapa waktu lalu “dipuja-puja”, dianggap hebat, dan otentik. Ketika terbukti tak berpengaruh terhadap perolehan suara PDIP, ada pengamat yang menyalahkannya. Katanya tak sama dengan Bung karno.
Ini sikap tidak konsisten. Dulu, ia diam saja dan mungkin ikut “memuja” Jokowi. Sekarang menyalahkan pengaruhnya yang tak terasa bagi PDIP, lalu membandingkannya dengan Bung Karno. Ini tidak adil. Bung Karno tak usah dibawa-bawa. Semua orang tak akan pernah sebanding dengan beliau.
Mbak Mega menjagokannya, tidak salah. Pertama, ada gelombang besar dalam PDIP, yang bergabung secara nasional, membangun suatu aliansi pendukung Jokowi. Kalau aspirasi anak-anaknya sudah begitu, apa salah kalau Mbak Mega mengabulkannya?
Munculnya Jokowi diduga sebagai jalan keluar politik yang baik. Semua, dalam lingkungan PDIP, kurang lebih berharap sama. Orang luar yang tak tahu-menahu urusan internal partai itu menyuruh pencalonan Jokowi ditinjau kembali. Ada penyesalan atas pencalonan itu.
Ini kewenangan internal PDIP. Keputusan sudah diambil dan pasti dengan segenap pertimbangan. Mau ditinjau ulang atau tidak, pencalonan itu terserah Mbak Mega dan mekanisme internal partai.
Saya tak mengenal Jokowi secara pribadi. Bertemu pun belum pernah. Tapi saya tak bisa diam melihat sikap orang banyak yang menyalahkan Jokowi. Ini tidak adil dan tidak bijaksana. “Ring tinju” politik untuk Jokowi belum dibuat. Evaluasi fatal-fatalan seperti itu belum saatnya dikemukakan. Kita perlu bersikap adil terhadap Jokowi.
Perjalanan religius Jokowi ke Tanah Suci bersama keluarga






RI Negara Raksasa, Bos Kadin: Masa Presiden Tak Punya Pesawat
Jakarta Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendukung pembelian pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) sekitar Rp 1 triliun.Alasannya, karena Indonesia merupakan negara besar sehingga perlu fasilitas pesawat dinas untuk mengantar presiden berkeliling menjalankan tugasnya.
"Perlu dong (pesawat kepresidenan). Kita kan negara besar, masa presidennya nggak punya pesawat," kata Ketua Umum Kadin Susilo Bambang Sulisto kepada Liputan6.com, Jakarta, Kamis (10/4/2014) malam.
Dia mengaku, Indonesia harus bangga dengan kehadiran pesawat berbodi panjang dan berkelir biru putih ini meski pemerintah harus merogoh dana yang cukup besar senilai US$ 91,2 juta atau sekitar Rp 1,036 triliun (Rp 11.363 per dolar AS).
"Kita negara besar harus bangga punya pesawat. Masa mau berprilaku kerdit terus," cetusnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa justru ketinggalan informasi mengenai kedatangan pesawat presiden. Bahkan dia kurang antusias menjawab soal anggaran pembelian pesawat itu.
"Kapan datangnya? Lalu harganya berapa? Kalau harganya segitu (hampir Rp 1 triliun) mahal ya? Ya negara sebesar ini. Tapi saya nggak usah ngomong," tandasnya.
(Nurseffi Dwi Wahyuni)
Kisah Pengecer Koran yang Tidak Percaya Politisi Pamer Pencitraan
Posted by Unknown on Rabu, 09 April 2014
Filed within
Jakarta
Jakarta - Manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, manusia tidak bisa lepas dari manusia lainnya dan bergantung satu sama lain. Sifat mendasar itu dimiliki manusia sehingga manusia selalu ingin tahu mengenai keadaan sesamanya. Hal itu dipahami betul oleh Medi (49).
Pria yang kesehariannya menjual koran eceran di bilangan Blok M itu tidak pernah melewatkan apa saja yang sedang menjadi perbincangan di Republik ini. Apalagi di tahun 2014 ini ketika suhu politik sedang memanas.
"Kita juga harus tahu kira-kira apa yang menarik yang diberitakan koran hari ini. Yang menarik itu kan yang laris biasanya," kata Medi sembari membawa koran dagangannya saat ditemui di sekitar Taman Sepeda, Jl Melawai Raya, Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (2/4/2014).
Medi juga tidak luput memperhatikan para tokoh partai di saat belasan partai politiknya riuh menggembar-gemborkan visi misi atas nama kesejahteraan rakyat. Namun, dia agaknya sedikit pesimis dengan tokoh-tokoh yang menurutnya hanya mengumbar janji manis.
Terlebih, bagi Medi, para politisi yang menguasai media massa. Medi berpendapat media massa seperti surat kabar dan televisi yang dimanfaatkan oleh politisi bisa disalahgunakan untuk membentuk opini masyarakat.
"Ya sebenarnya itu malah merugikan. Karena orang sudah tahu kalau dia punya (media massa tertentu). Orang jadi tahu kalau itu cuma pencitraannya saja. Kalau kata peribahasa tong kosong nyaring bunyinya," kata bapak 2 anak itu.
Medi sudah bergelut dengan dunia surat kabar sejak tahun 2000-an. Ketika itu dia diberhentikan oleh sebuah perusahaan farmasi di mana dia bekerja. Namun, Medi tidak patah arang. Meski dengan penghasilan kecil, Medi bersyukur apa yang dikerjakannya masih memberikan hasil.
Setidaknya, manusia jaman sekarang masih menyadari tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Di tengah gaung politik yang semakin nyaring terdengar, Medi ingin masyarakat sepenuhnya paham tentang siapa saja tokoh yang ingin memimpin Republik ini.
Sumber
Sudah Asyik Mengobrol, Pengungsi Baru Tahu Istri Jokowi
Posted by Unknown on Sabtu, 01 Februari 2014
Filed within
Jakarta
JAKARTA — Pengungsi korban banjir di STBA Pertiwi, Jalan Dewi Sartika, Kramat Jati, Jakarta Timur, baru tahu seorang perempuan yang asyik diajak mengobrol sedari tadi, rupanya Iriana, istri Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.
Saat blusukan ke lokasi pengungsian itu, Jumat (31/1/2014), Jokowi rupanya turut serta membawa sang istri dan dua anaknya di mobil. Namun, Jokowi meninggalkan mereka untuk blusukan ke belakang titik pengungsi. Dari situ Jokowi melihat rumah-rumah warga yang beberapa waktu lalu diterjang banjir luapan Sungai Ciliwung.
Iriana dan dua anaknya turun dari mobil dan berbincang dengan beberapa ibu korban pengungsi. Ibu-ibu itu tak mengenal Iriana. Mereka hanya menjawab pertanyaan Iriana dengan seadanya.
"Ini anak Ibu?" tanya Iriana kepada seorang ibu sambil menunjuk seorang balita yang tampak terbangun dari tidurnya. "Iya, ini anak saya. Tadi kebangun, banyak orang," jawab ibu itu.
Iriana pun bersalaman dengan ibu-ibu lain yang sedang bersantai menghabiskan waktu di pengungsian. Iriana kemudian duduk bersila di tengah-tengah mereka dan berbincang santai.
Sekitar lima menit kemudian, Jokowi datang melewati kumpulan ibu-ibu itu. Ia tak menyadari sang istri berada di tengah-tengah pengungsi. Jokowi baru tersadar setelah salah satu wartawan melontarkan canda kepadanya, "Pak pengungsi ini enggak disapa?"
Jokowi pun terkejut melihat sang istri berbaur di tengah pengungsi. "Loh, kok di sini? Kenalin Bu, ini Ibu Jokowi, istri saya," ujar Jokowi.
Sontak ibu-ibu yang mengobrol dengannya tadi terkejut. "Loh, ini istrinya Pak Jokowi toh. Aduh, maaf ya Bu, enggak kenalin," ujar ibu-ibu itu bergantian bersalaman dan berfoto bersama.
Iriana tampak tidak mencolok ketika datang ke titik pengungsian. Rambut panjangnya dibiarkan terurai tanpa diikat. Ia mengenakan kaus hitam dibalut jaket jins dengan syal warna hitam-putih dipadu celana jins warna biru tua.
Ia pun tak mengenakan make up sehingga tampak tidak seperti istri-istri pejabat lain. Hingga pukul 15.25 WIB, Jokowi masih blusukan di sekitar titik pengungsian tersebut. Jokowi juga mendistribusikan sejumlah bantuan berupa beras, telur, dan buku tulis kepada warga.
| Penulis | : Fabian Januarius Kuwado |
| Editor | : Bambang Priyo Jatmiko |
Profesor Singapura pelajari jurus Jokowi pimpin Jakarta
Posted by Unknown on
Filed within
Jakarta
Di tengah-tengah blusukannya melihat Waduk Pluit, Jakarta Utara sore ini, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mendapatkan sanjungan dari professor asal Singapura, Chan Heng Chee yang ikut dalam rombongan.
"Bergerak mengkaji teknologi inovasi kota-kota besar, saya berkeliling ke kota untuk melihat bagaimana pemimpin kota menata kotanya, bagaimana pendekatannya Jokowi ketika di Solo dan Jakarta banyak melakukan perubahan, terutama dalam habit perilaku-perilaku sehari warga dan tata organisasi. Padahal, setahu saya untuk menata itu sangat sulit," ujar Professor yang mengajar di Singapore University of Technology and Design Chan Heng Chee di waduk Pluit, Jakarta Utara, Selasa (20/8).
Wanita yang terlihat antusias melihat Waduk Pluit tersebut, juga mengaku ingin mempelajari pola-pola yang digunakan Jokowi untuk diterapkannya di universitas tempat dirinya mengajar.
"Saya lihat ada habit yang berubah dari masyarakat di Tanah Abang dan Pluit ini, padahal itu sulit. Hanya ini saya akan kembali lagi ke Singapura untuk pelajarinya, karena rupanya, DKI Jakarta punya banyak plan dalam menata Kota," tandasnya.
Sumber
Serukan dukungan, relawan tak rela Jokowi cuma jadi cawapres
Posted by Unknown on Minggu, 26 Januari 2014
Filed within
Jakarta
Dukungan pada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjadi capres alternatif 2014 makin kuat. Kumpulan massa yang menyebut diri mereka sebagai Forum Relawan Jokowi mendesak mantan wali kota Solo itu tak lagi berpikir dua kali jadi orang nomor satu di Indonesia.
"Kami For Jokowi ingin Jokowi menjadi presiden dan kami menolak Jokowi jadi wakil presiden," kata penasehat For Jokowi, Yery Tawalujan, di The Proklamasi Mansion, Jl Proklamasi Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, (26/1).
Menurut mereka, hanya Jokowi yang mampu membereskan masalah bangsa ini. Salah satunya perilaku korupsi yang makin merajarela.
"Karena itu masalahnya bangsa kita belum ada yang pantas menjadi presiden. Yang ada, saya rasa Jokowi yang layak," ujarnya.
Andai kata langkah Jokowi hanya sebatas wakil presiden, mereka memberikan solusi agar pria bertubuh kurus itu tetap jadi gubernur DKI.
"Kalau Jokowi jadi wakil presiden mendingan jadi gubernur aja," tegasnya.
Sekedar diketahui, relawan yang mengatasnamakan forum relawan 'For Jokowi' berasal dari berbagai elemen masyarakat di seluruh Indonesia. Sebagai bentuk keseriusan mereka mendukung Jokowi, para relawan mengklaim aksi mereka tak ditunggangi parpol tertentu.
"Kami For Jokowi ingin Jokowi menjadi presiden dan kami menolak Jokowi jadi wakil presiden," kata penasehat For Jokowi, Yery Tawalujan, di The Proklamasi Mansion, Jl Proklamasi Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, (26/1).
Menurut mereka, hanya Jokowi yang mampu membereskan masalah bangsa ini. Salah satunya perilaku korupsi yang makin merajarela.
"Karena itu masalahnya bangsa kita belum ada yang pantas menjadi presiden. Yang ada, saya rasa Jokowi yang layak," ujarnya.
Andai kata langkah Jokowi hanya sebatas wakil presiden, mereka memberikan solusi agar pria bertubuh kurus itu tetap jadi gubernur DKI.
"Kalau Jokowi jadi wakil presiden mendingan jadi gubernur aja," tegasnya.
Sekedar diketahui, relawan yang mengatasnamakan forum relawan 'For Jokowi' berasal dari berbagai elemen masyarakat di seluruh Indonesia. Sebagai bentuk keseriusan mereka mendukung Jokowi, para relawan mengklaim aksi mereka tak ditunggangi parpol tertentu.
Basuki Curiga Dana Hibah Rp 5 Triliun untuk Anggaran Politis DPRD
Posted by Unknown on Jumat, 24 Januari 2014
Filed within
Jakarta
JAKARTA, — Ada pelonjakan angka hibah di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2014. Dari nilai APBD Rp 72 triliun yang telah disahkan DPRD, dana hibah yang digelontorkan tanpa butuh pertanggungjawaban mencapai Rp 5 triliun.
Dana ini melonjak apabila dibandingkan APBD tahun 2013 lalu yang hanya mengalokasikan Rp 3,7 triliun. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menduga lonjakan dana itu sebagai anggaran politis DPRD DKI Jakarta karena tahun 2014 merupakan tahun politik.
"Saya enggak tahu hibah untuk apa saja, bisa dari permintaan anggota DPRD. Makanya kita minta ICW bantu awasi angggaran, dana hibah ini nantinya ke mana saja, kok bisa melonjak tinggi," kata Basuki, di Balaikota Jakarta, Kamis (23/1/2014).
Selain hibah, ada juga program belanja yang merupakan pokok pikiran (pokir) anggota DPRD DKI Jakarta dalam APBD DKI. Pokir ini tersebar di semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) DKI Jakarta.
Secara aturan, menurut dia, pokir tidak salah. Namun, menjadi masalah saat pokir tidak jelas penggunaannya. Misalnya, hanya untuk bagi-bagi proyek, seperti pengadaan meja pingpong, kursi, meja sekolah, filling cabinet, dan sebagainya. Menurutnya, lebih baik anggaran berlebih itu dipangkasnya dan menjadi sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa).
Di sisi lain, ia tak bisa menuding alotnya pembahasan APBD DKI disebabkan karena banyaknya program pokir DPRD DKI. Beberapa waktu lalu, ia pernah meminta DPRD DKI untuk mengunggah video rapat pembahasan APBD ke situs Youtube. Namun, permintaan itu ditolak oleh politisi Kebon Sirih.
Salah satu antisipasi dalam penyalahgunaan anggaran itu adalah dengan menerapkan e-budgeting. Melalui sistem tersebut, Gubernur, Wakil Gubernur, beserta Kepala Badan Pengawasan Keuangan Daerah (BPKD) memiliki wewenang untuk mengunci anggaran dan dana hibah yang mencurigakan. Sehingga, nantinya anggaran tidak dapat terpakai.
"Kalau kita lock duluan sebelum APBD diketok (disahkan), mereka (DPRD) enggak akan ketok ketok. Jadi, biarin saja diketok dulu, nanti baru yang mencurigakan kita lock, pasti ada yang ribut-ribut," kata Basuki.
Main mata
Pria yang akrab disapa Ahok itu tak menampik banyak program tidak penting yang merupakan hasil kerja sama legislatif dengan pihak eksekutif. Ia mengancam akan mencopot kepala dinas dan kepala suku dinas yang kerap bermain mata dengan DPRD DKI. Namun, penggantian para eksekutif itu menunggu pengesahan APBD oleh Mendagri selesai terlebih dahulu. Setelah dikoreksi oleh Mendagri, akan ketahuan program-program mana saja yang "aneh" dengan pagu anggaran yang fantastis.
Basuki juga meminta masyarakat untuk berperan memantau APBD. Jika masyarakat melihat ada nilai anggaran yang "aneh", mereka bisa langsung melapor. "Saya kunci saja di komputer saya. Jadi kalau Gubernur lock, saya enggak bisa unlock (buka). Kalau saya yang lock, Gubernur enggak bisa unlock. Kalau DPRD sih maunya unlock, he-he-he," kata dia.
Beberapa waktu lalu Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pernah menemukan adanya penyalahgunaan penyaluran dana bantuan sosial (bansos) dan hibah di APBD DKI 2012. Saat itu, BPKP merilis ada anggaran sebesar Rp 8,32 miliar untuk bantuan sosial dan hibah dengan 191 penerima baru. Padahal, dalam pembahasan APBD tersebut, ratusan penerima itu tidak ada.
| Penulis | : Kurnia Sari Aziza |
| Editor | : Ana Shofiana Syatiri |




