Home » Posts filed under Al-Hikmah
Tampilkan postingan dengan label Al-Hikmah. Tampilkan semua postingan
Petunjuk Al-Quran Dalam Memilih Pemimpin
Posted by Unknown on Sabtu, 25 Januari 2014
Filed within
Al-Hikmah
![]() |
| Khalifah |
Pada zaman sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, berebut kedudukan sehingga menjadikannya sebagai sebuah obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah (meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Jabatan baik formal maupun informal di negeri kita Indonesia dipandang sebagai sebuah "aset", karena ia baik langsung maupun tidak langsung berkonsekwensi kepada keuntungan, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya. Maka tidaklah heran menjadi kepala daerah, gubernur, bupati, walikota, anggota dewan, direktur dan sebagainya merupakan impian dan obsesi semua orang. Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, bahkan sampai kepada artis.
Mereka berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan (kepemimpinan) tersebut. Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat kepemimpinan itu sendiri. Karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai banyak orang.
Hakikat kepemimpinan
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang pemimpin. Menurut Shihab (2002) ada dua hal yang harus dipahami tentang hakikat kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124,
"Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan (amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab: Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim".
Kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah swt, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia.
Karena itu pula, ketika sahabat Nabi SAW, Abu Dzarr, meminta suatu jabatan, Nabi saw bersabda: "Kamu lemah, dan ini adalah amanah sekaligus dapat menjadi sebab kenistaan dan penyesalan di hari kemudian (bila disia-siakan)".(H. R. Muslim). Sikap yang sama juga ditunjukkan Nabi saw ketika seseorang meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: "Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu. "Maka jawab Rasulullah saw: "Demi Allah Kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu".(H. R. Bukhari Muslim).
Kepemimpinan menuntut keadilan. Keadilan adalah lawan dari penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan. Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan yang adil antara dua pihak yang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang. Lihat Q. S. Shad (38): 22, "Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu".
Hal senada dikemukakan oleh Hafidhuddin (2003). Menurutnya ada dua pengertian pemimpin menurut Islam yang harus dipahami. Pertama, pemimpin berarti umara yang sering disebut juga dengan ulul amri. Lihat Q. S. An-Nisaâ 4): 5,
"Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu". Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa ulil amri, umara atau penguasa adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Dengan kata lain, pemimpin itu adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan rakyat. Jika ada pemimpin yang tidak mau mengurus kepentingan rakyat, maka ia bukanlah pemimpin (yang sesungguhnya).
Kedua, pemimpin sering juga disebut khadimul ummah (pelayan umat). Menurut istilah itu, seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat, bukan minta dilayani. Dengan demikian, hakikat pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang sanggup dan bersedia menjalankan amanat Allah swt untuk mengurus dan melayani umat/masyarakat.
Kriteria pemimpin
Para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).
Di dalam Al-Quran juga dijumpai beberapa ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, diantaranya terdapat dalam surat As-Sajdah (32): 24 dan Al-Anbiyaâ (21): 73. Sifat-sifat dimaksud adalah: (1). Kesabaran dan ketabahan. "Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah". Lihat Q. S. As-Sajdah (32): 24. Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan yang lain adalah sifat-sifat yang lahir kemudian akibat adanya sifat (kesabaran) tersebut. (2). Mampu menunjukkan jalan kebahagiaan kepada umatnya sesuai dengan petunjuk Allah swt. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, "Mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami". Pemimpin dituntut tidak hanya menunjukkan tetapi mengantar rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi (sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir sekali menikmatinya. (3). Telah membudaya pada diri mereka kebajikan. Lihat Q. S. Al-Anbiyaâ (21): 73, "Dan Kami wahyukan kepada mereka (pemimpin) untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan menegakkan sholat serta menunaikan zakat". Hal ini dapat tercapai (mengantarkan umat kepada kebahagiaan) apabila kebajikan telah mendarah daging dalam diri para pemimpin yang timbul dari keyakinan ilahiyah dan akidah yang mantap tertanam di dalam dada mereka.
Sifat-sifat pokok seorang pemimpin tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Al-Mubarak seperti dikutip Hafidhuddin (2002), yakni ada empat syarat untuk menjadi pemimpin: Pertama, memiliki aqidah yang benar (aqidah salimah). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (`ilmun wasi`un). Ketiga, memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah). Keempat, memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam mengatur urusan-urusan duniawi.
Memilih pemimpin
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits.
Kaum muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut). Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan hasil pilihan mereka adalah "cerminâ" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian".
Sikap rakyat terhadap pemimpin
Dalam proses pengangkatan seseorang sebagai pemimpin terdapat keterlibatan pihak lain selain Allah, yaitu masyarakat. Karena yang memilih pemimpin adalah masyarakat. Konsekwensinya masyarakat harus mentaati pemimpin mereka, mencintai, menyenangi, atau sekurangnya tidak membenci. Sabda Rasulullah saw:
"Barang siapa yang mengimami (memimpin) sekelompok manusia (walau) dalam sholat, sedangkan mereka tidak menyenanginya, maka sholatnya tidak melampaui kedua telinganya (tidak diterima Allah)".
Di lain pihak pemimpin dituntut untuk memahami kehendak dan memperhatikan penderitaan rakyat. Sebab dalam sejarahnya para rasul tidak diutus kecuali yang mampu memahami bahasa (kehendak) kaumnya serta mengerti (kesusahan) mereka. Lihat Q. S. Ibrahim (14): 4, "Kami tidak pernah mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya". dan Q. S. At-Taubah (9): 129, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa berat baginya penderitaanmu lagi sangat mengharapkan kebaikan bagi kamu, sangat penyantun dan penyayang kepada kaum mukmin.
Demikianlah Al-Quran dan Hadits menekankan bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi pemimpin. Sebab memilih pemimpin dengan baik dan benar adalah sama pentingnya dengan menjadi pemimpin yang baik dan benar.(*)
Penulis adalah:
Staf Hukmas dan KUB
Kanwil Kementerian Agama (Kemenag)
Prov. Riau
Resep Manjur Menumbangkan Keperkasaan Jokowi
Catatan : M. Aji Surya |
Jakarta - Naiknya suhu politik tahun ini antara lain ditandai adanya kelompok yang panas hati dengan tingkat elektabilitas Jokowi yang terus meroket. Beberapa pihak telah mencoba menggempurnya, namun masih mandul. Mereka tidak tahu persis cara paling tepat untuk menumbangkan keperkasaan Jokowi. Cobalah resep ini.
Sebagai sebuah pengantar, saya perlu sampaikan bahwa setiap zaman pasti ada model pemimpin yang tepat untuk masyarakat. Pemimpin kemarin mungkin tidak cocok untuk hari ini, apalagi pemimpin jaman dulu (jadul). Bahkan seorang kepala desa atau menteri yang dianggap sukses 10 tahun lalu, kemungkinan tidak baik kalau dipasang saat ini. Begitu juga, pemimpin 50 tahun kedepan dipastikan tidak pas menjadi komandan politik masa kini. Biasanya, yang masih relevan hanyalah nilai-nilai (values) yang ditinggalkan. Itulah mengapa, banyak tokoh yang sadar diri untuk mundur dari panggung politik. Itulah mengapa banyak pengamat menyarankan, "Sudahlah, berikan kepada mereka yang muda".
Kalau kita mau menengok ke belakang, ternyata kita telah melewati era beberapa model kepemimpinan. Pada awal tahun 1900an dimana penjajahan masih sangat mencengkeram dan masyarakat begitu terbelakang, maka pemimpin yang memberikan pencerahan tentang arti kemerdekaan menjadi sebuah kebutuhan. Budi Utomo dan KH. Ahmad Dahlan misalnya, adalah dua tokoh dan pemimpin yang sangat penting pada eranya.
Kemudian, kita sempat melalui sebuah masa yang memerlukan seorang pemimpin yang mampu mengobarkan semangat untuk kemerdekaan. Orasi yang membakar saat itu sangatlah diperlukan agar bangsa ini dapat bersama-sama terbebas dari penjajah dan mempertahankan keperdekaan yang diraih dengan susah payah. Saat itu kita memiliki pemimpin yang bernama Soekarno dan Bung Tomo.
Barulah kemudian, Indonesia memasuki zaman pembangunan dari papan yang paling bawah. Mengejar ketertinggalan dari berbagai negara. Bapak pembangunan saat itu sangat dibutuhkan dan pemimpin penuh orasi mulai ditinggalkan. Pendidikan dan infrastuktur mulai digeber sehingga masyarakatnya semakin melek dan berotak encer. Awalnya, masyarakat mengamini pemimpin yang seperti ini, namun kenyataannya kemudian bosan dan menggantinya dengan yang lain.
Era yang lebih baru pun tiba. Sebuah zaman yang mengidam-idamkan demokrasi dan keterbukaan. Demokrasi menjadi sebuah kata kunci bagi seseorang yang mau menjadi pemimpin. Mereka yang tidak doyan demokrasi, pasti disingkirkan dan tidak terpilih. Kebebasan pers, jaminan mengekspresikan diri dan menjunjung pluralisme menjadi sebuah trend teranyar dalam masyarakat.
Tiba-tiba saja, masyarakat ini kemudian terpesona oleh pemimpin yang berwibawa, berpostur bagus, tidak mengecewakan dalam penampilan dan bertutur bijak. Itulah mengapa kemudian muncul seorang presiden yang memang pas pada masa itu. Masyarakat berharap, keinginan dan cita-citanya mampu diejawantahkan oleh pemimpin yang dipilihnya secara demokratis.
Fenomena Jokowi sebenarnya hanya menunjukkan sebuah trend baru dalam masyarakat Indonesia. Setidaknya, hal ini menandakan bahwa secara umum, bangsa ini sedang memiliki mimpi anyar, yakni seorang pemimpin yang lugas, mampu berkomunikasi serta terlihat bekerja nyata. Tidak perlu lagi retorika, membakar semangat seperti zaman kemerdekaan, beradu konsep yang muluk-muluk, kelihatan pintar, pandai bersilat lidah, atau berpakaian tepat dan bagus.
Memahami Jokowi cukuplah dengan dua kata: lugas dan kerja. Lupakan yang lainnya. Jokowi tidak pandai debat makanya tidak mau berdebat. Jokowi tidak pandai berpakaian makanya kalah necis dibanding mereka yang mengedepankan pencitraan. Jokowi tidak terlalu pintar karena memang "hanya" alumnus universitas ndeso. Jokowi krempeng dan tidak cakep, makanya kalah dengan mereka yang memiliki six packs.
Kekuatan Jokowi hanya dalam kata lugas dan kerja. Dia lugas alias apa adanya, sekaligus sederhana. Tidak mengada-ada. Dia sangat tidak perduli dengan apa kata orang terhadapnya. Yang penting baginya hanyalah bekerja siang dan malam. Mencoba yang terbaik dan memperbaiki keadaan sesuai kemampuannya dengan cara mengkomunikasikan dengan masyarakat secara langsung. Ia jarang sekali menggunakan bahasa Inggris dalam percakapannya. Uniknya, Jokowi berani melawan siapapun ketika ia merasa benar. Akhirnya, pria asal Solo ini meroket dan mendapat dukungan publik secara luas.
Resep mengalahkan Jokowi
Pertama, jangan merendahkan apa yang dilakukan Jokowi. Saat ini, apa yang dilakukan Jokowi dirasa pas oleh banyak kalangan. Meskipun hasilnya masih minim, kemauannya untuk bekerja dan blusukan menjadi dambaan masyarakat. Bayangkan, ketenaran Jokowi sudah lintas suku, mulai dari Sabang sampai Merauke. Merendahkan pekerjaan Jokowi pada dasarnya hanya sebuah kegiatan "bunuh diri" dan sulit memberikan hasil yang optimal. Hindari mengolok-olok Jokowi dengan cara yang naif dan bertentangan dengan keinginan masyarakat.
Kedua, jangan ajak Jokowi untuk melakukan debat konsep. Pasti tidak akan dilayani karena ia memang tidak memiliki kapasitas untuk itu. Lihatlah bagaimana debat yang terjadi pada pemilihan gubernur DKI tempo hari. Kalimat Jokowi terasa sederhana dan hanya menyandarkan dua kata: dikomunikasikan dan blusukan. Dua kata itulah yang ternyata sangat magis dan menjadi ujung kemenangannya yang tak terprediksikan oleh lembaga survey manapun. Mengajak debat dengan Jokowi sama saja dengan berdebat dengan "tembok".
Ketiga, jangan buang-buang duit dengan pencitraan. Setiap mereka yang ingin mengalahkan Jokowi harus sadar bahwa pencitraan tanpa karya adalah sebuah pembohongan publik. Sayangnya, masyarakat kita sekarang sudah relatif terdidik secara politik dan mampu mengendus siapa yang sungguh-sungguh dan siapa yang berkamuflase. Ketika meraih kursi DKI 1, Jokowi tidak memasang spanduk, apalagi iklan di teve, melainkan hanya menggunakan atribut baju kotak-kotak
Keempat, jangan main kasar. Maksudnya, bersainglah dalam sebuah kerangka demokrasi yang tinggi, atau menurut istilahnya Amien Rais: high politics. Berpolitik dengan adab, sopan santun dan aturan yang benar. Saya sangat mengkhawatirkan, permainan politik yang tidak bermoral justru akan seperti sebuah bumerang yang akan lari kepada dirinya sendiri. Di masa sekarang, sudah sangat sulit untuk menyembunyikan sesuatu. Lebih baik transparan dan mengedepankan rule of law dan etika.
Kelima, tunjukkan prestasi diri. Kalau dalam konsep Islam, ini sama dengan "berlomba-loma dalam kebajikan". Tidak perlu menyerang, tetapi memunculkan secara lugas apa yang telah dilakukan untuk masyarakat dengan hasil-hasil yang bisa terukur. Pernah memberikan sesuatu yang dibutuhkan bangsa. Menyombongkan diri dalam hal kebaikan, bukan dalam kecongkaan. Cara ini pasti diapresiasi oleh masyarakat Indonesia saat ini.
Keenam, bekerja keras dan cerdas. Yang dibutuhkan untuk mengalahkan Jokowi adalah memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bekerja keras untuk memenuhi mimpi-mimpi rakyat. Kalau Jokowi bisa mengusahakan perbaikan waduk Ria-Rio, kenapa yang lain tidak melakukan yang serupa. Kalau Jokowi bekerja keras untuk merealisasikan MRT dari selatan ke utara, kenapa yang lain tidak membuat dari timur ke barat. Kalau Jokowi melancarkan jalan di Tanah Abang, kenapa yang lain tidak melakukan hal yang sama di Kebayoran Lama. Sungguh, masih banyak sekali hal yang menjadi PR bangsa ini. Berhentilah berkonsep yang mengukir langit, tapi bekerjalah. Rakyat sudah capek dengan janji-janji surga.
Terakhir, kalaupun sudah berusaha dengan aneka cara diatas tapi kira-kira masih akan KO melawan Jokowi, maka lakukan konsep ini: "Kalau tidak bisa mengalahkan, bergabunglah". Mungkin menyakitkan, tapi dalam dunia politik semua serba mungkin. Rubahlah pola pikir: yang menjadi ukuran bukan soal menang atau kalah, tapi seberapa besar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Insya Allah bangsa ini akan maju dan makmur. ()
*Penulis adalah pengamat sosial dan dosen Fakultas Komunikasi, Tanri Abeng University (TAU), Jakarta.
Sumber
Jalan Sunyi Gede Pasek
Posted by Unknown on Sabtu, 11 Januari 2014
Filed within
Al-Hikmah

DI tengah gemuruh politik nasional dan
hiruk-pikuk di partai biru yang kering-kerontang, saya melihat satu
embun kecemerlangan pada sosok Gede Pasek Suardika. Di saat sahabatnya
dicaci dan dimaki banyak orang, ia tetap tenang dan menjawab cacian itu
dengan argumentasi yang positif. Ia tetap menemani sahabatnya, bahkan di
saat-saat paling sulit dalam kehidupannya. Ia beda dengan politisi lain
yang biasanya menjadi ‘penyanjung di saat jaya, dan pemaki di saat terpuruk’.
***
DI gedung Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), Gede Pasek Suardika datang mendampingi Anas Urbaningrum
yang hendak diperiksa sebagai tersangka kasus Hambalang. Semua media
langsung mengarahkan sorotan kamera ke rombongan kecil mereka. Gede
Pasek tak menghindar. Ia tetap hadir dan jalan bersisian dengan Anas.
Senyum tak pernah lepas dari bibir politisi asal Bali ini.
Entah, apakah ia tahu bahwa di tanah
air, seorang terduga korupsi dianggap membawa penyakit yang bisa
menjangkiti siapapun yang mendekatinya. Tidakkah ia khawatir kalau
dirinya akan ikut dibuang dalam peta politik nasional sebagaimana para
tertuduh lainnya? Tidakkah ia memikirkan posisinya sebagai anggota DPR
RI dari sebuah partai yang tengah berkuasa? Mengapa pula ia tak menjauhi
sahabatnya ketika dirinya telah dirotasi sampai empat kali di DPR RI?
Lelaki asal Singaraja itu memang
tenang. Di saat semua orang meninggalkan Anas dan mencari jalan selamat
dari posisi di partai ataupun parlemen, Pasek tetap tak beranjak. Ia tak
hendak ikut jadi pencaci atau penghujat. Ia tetap memosisikan dirinya
sebagai sosok yang tak akan pernah meninggalkan sahabatnya demi untuk
mengejar titik nyaman. Demi sahabat itu, ia ikut menerima cacian serta
hujatan, yang justru semakin membesarkan dirinya.
Saya belum pernah bertemu dengannya.
Namun saya terkesima saat melihat dirinya pada dialog yang dipandu
Karni Ilyas. Saat itu, ia belum lama di-lengserkan dari posisi Ketua
Komisi III. Ketika beberapa politisi seperti Ruhut Sitompul menyanjung
SBY dan menjelekkan Anas, ia tak mau ikut larut. Saya menyaksikan bahwa
beberapa kali ia seakan dipaksa untuk mmberikan komentar kasar kepada
ketua partai yang melengserkannya. Ia tetap tidak mau melakukannya.
Ia hanya berkata singkat bahwa ia tak
ingin masuk dalam dikotomi antara menyanjung dan membenci. “Bagi saya,
SBY adalah guru, dan Anas adalah sahabat. Posisi itu tak akan pernah
berubah. Keduanya telah memberi warna bagi kehidupan saya. Sungguh tak
adil jika disuruh memilih salah satu,” katanya. Meskipun ia beberapa
kali mengkritik SBY, ia melakukannya dalam konteks untuk pembenahan
partai itu. Ia tak latah mengkritik dengan cara membabibuta sebagaimana
dilakukan politisi karbitan lainnya.
Pasek memang sangat dekat dengan
Anas. Ketika Anas menjadi ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),
Pasek menjabat sebagai ketua Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia
(KMHDI). Persahabatan mereka lalu berlanjut hingga parlemen, ketika Anas
terpilih sebagai Ketua Fraksi Demokrat. Hingga akhirnya Anas
mengundurkan diri, dan partai itu lalu menggelar konser luar biasa di
Bali.
Ia memilih untuk tidak masuk arena
kongres. Ia berjalan-jalan di sekitar Bali, lalu membeli patung wayang
Sangkuni, sebagai simbol dari pilihan politiknya. Apakah ia tidak loyal
pada partainya? Lelaki yang punya banyak pengalaman sebagai jurnalis ini
punya pendapat sendiri. Bahwa loyalitas tidak diukur dari seberapa
panjang lidah dalam menjilat seorang pengendali partai. Loyalitas harus
diukur pada seberapa besar kontribusi bagi partai di daerah-daerah,
seberapa besar pengaruh seseorang dalam menaikkan suara, bagaimana
mengawal agenda strategis kerakyatan, serta bagaimana menjaga suara
rakyat agar tidak redup di parlemen.
Dunia politik kita memang dipenuhi
para sengkuni. Ada banyak para pemain politik yang berkeliaran dan
setiap saat bisa berganti muka. Mereka memenuhi panggung politik demi
mengatasnamakan rakyat serta nilai-nilai keluhuran. Demi nilai keluhuran
itu, segala tipu daya dan saling jegal menjadi sesuatu yang dianggap
sah dalam dunia politik. Di tangan orang-orang seperti Pasek, politik
menjadi satu arena untuk menegaskan nilai, meskipun posisi itu kelak
akan tak nyaman bagi pemegang kuasa. Tapi demi nilai-niai itu, seseorang
mesti menjadi martir untuk menunjukkan pada banyak orang bahwa ada
sesuatu yang salah di situ.
Pasek, lelaki yang menuliskan ajaran leluhur Bali dalam buku 108 Tips Niskala
nampaknya meyakini bahwa setiap pilihan politik adalah gerak material
dari refleksi serta kontemplasi. Boleh jadi, pilihan itu adalah
manifestasi dari jalan spiritual yang dipilihnya. Seorang penganut jalan
spiritual selalu ingin memanifestasikan semua ajaran yang diyakininya
pada jalan yang akan dipilihnya, sepahit apapun itu. Ia melihat matahari
yang memandu gerak langkahnya, kemudian menanggung segala konsekuensi
pahit atas apa yang dilihatnya.
Dalam khasanah filosofis, niskala
adalah sesuatu yang abstrak, maya, dan tak berwujud, namun sejatinya
menempati satu wujud. Sebuah meja nampak diam, namun jika ditelusuri
pada level niskala, di dalam meja tersebut terdapat banyak elektron yang
sedang bergerak. Di dalam meja itu ada banyak gerak, yang hanya bisa
disaksikan oleh mereka yang menajamkan seluruh indera.
Kehidupan, sebagaimana diyakini Pasek
dalam bukunya adalah keseimbangan melakoni peran antara jasmani-rohani
dan sekala-niskala. Manusia yang paripurna adalah manusia yang memahami
hakekat kehidupan, dan selalu menggapai titik harmonis bersama alam
semesta. Letusan gunung tak selalu jadi pertanda buruk, melainkan momen
bagi alam untuk mengembalikan kesuburan tanah. Bencana alam tak selalu
jadi bencana, seringkali membawa berkah bagi manusia untuk dihayati dan
direnungi. Mungkinkah Pasek meyakini bahwa jalan yang dipiihnya bersama
Anas akan nampak kacau, salah, serta berpotensi untuk dihujat, namun
selalu ada pesan-pesan bijak yang hendak disampaikannya? Entahlah.
Serupa permainan catur, pengadilan
bagi Anas akan menjadi arena untuk menguji sejauh mana keyakinan Pasek
akan jalan yang dipiihnya. Namun terlepas dari benar atau salah, sosok
tenang itu telah menunjukkan makna persahabatan yang tak akan pernah
tergadaikan oleh apapun. Ketika sahabatnya di bibir jurang, ia memilih
untuk bersetia bersamanya, dan tidak hendak menjadi sosok oportunis.
Beberapa kali ia mengatakan, “Saya tak ingin mengorbankan persahabatan saya demi untuk materi dan posisi.”
Pria asal Pulau Dewata itu bukanlah
seorang ronin yang kerap ikut arus ke manapun. Ia adalah samurai yang
setia dengan segala tekad dan janji persahabatan. Ia menemani sang
sahabat sekaligus menunjukkan konsistensinya untuk menghargai setiap
kata yang pernah diucapkannya.
Seorang teman di gedung KPK
menuturkan, ketika Pasek dan Anas jalan bersisian di gedung itu, Pasek
sempat membisikkan sesuatu. Sesaat sebelum Anas masuk ke ruang
pemeriksaan, Pasek berbisik, “Hari ini mungkin kita akan kalah. Tapi
kita telah membuka mata orang tentang sesuatu yang sedang terjadi. Kita
tak benar-benar kalah.”
Mengapa? Rasulullah Melarang Mencabut Uban.
Posted by Unknown on Rabu, 01 Januari 2014
Filed within
Al-Hikmah

Misalnya saja, larangan seorang Muslim yang tidak boleh minum sambil berdiri. Atau harus tidak dengan posisi tertentu. Begitu juga dengan keajaiban yang tersimpan di setiap helai rambut yang sudah memutih, alias uban.
Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban—walaupun sehelai—dalam Islam melainkan setiap ubannya akan dihitung sebagai suatu kebaikan dan akan meninggikan derajatnya,” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Muhammad bin Hibban At Tamimi rahimahullah, yang lebih dikenal
dengan Ibnu Hibban, dalam kitab Shahihnya menyebutkan pembahasan “Hadits
yang menceritakan bahwa Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan
kesalahan serta akan meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang
dia jaga di dunia.”
Lalu Ibnu Hibban membawakan hadits berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat,” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Nah, di tahun 2012, Ismael Galvan Galvan dari Museo Nacional de
Ciencias Naturales, Spanyol melakukan studi, tentang uban. Dari hasil
para peneliti itu, ternyata uban merupakan tanda Anda akan memiliki
hidup panjang dan sehat. Namun kabar buruk bagi Anda yang memiliki
rambut merah, karena ini terkait tingkat yang lebih tinggi untuk
mengidap kanker.
“Pada manusia, melanin kulit, rambut dan bulu merupakan jenis yang
sama. Hal ini membatasi pengetahuan pada konsekuensi fisiologi
pigmentasi,” kata Galvan.
Uban menandakan absennya melanin. Artinya, uban merupakan tanda hidup yang sehat.
“Jauh dari tanda terkait penuaan, uban mengindikasikan kondisi yang baik,” pungkasnya. Jadi, Anda sudah berubah? Subhanallah. (islamsiana)
Akhir Zaman, Semenanjung Arab Kembali Subur
Posted by Unknown on
Filed within
Al-Hikmah

Pada tahun 2012 ditemukan jaringan dari sungai dan danau yang sangat besar dan luas di bawah gurun pasir. Profesor Michael Petraglia dari University of Oxford melakukan penelitian di padang pasir di Semenanjung Arab yang pada akhirnya menemukan bahwa ternyata gurun pasir yang gersang tersebut menyembunyikan jaringan sungai yang luas di bawah.
Hal ini mengindikasikan bahwa daerah ini sebelumnya pernah dipenuhi
dengan berbagai kehidupan, keaktifan, organisme dan hutan. Penelitian
ini ditangani oleh Tim observasi selama proses akumulasi informasi lebih
lanjut tentang daerah ini.
Seperti yang disampaikan dalam situs University of Oxford dengan
judul penelitian `Scientists explore an ancient network of rivers and
lakes in the Arabian Desert`.
Profesor Petraglia tengah melakukan penggalian bawah gurun pasir
untuk mengetahui penyebab keberadaan kehidupan di daerah ini pada ribuan
tahun silam serta alasan mengapa kehidupan tersebut bisa lenyap lalu
berganti menjadi daerah padang pasir gersang setelah sebelumnya
memililiki kekayaan sumber air, populasi manusia dan hewan. (Referensi:
Oxford University Press, 2012)
Gambar yang diperoleh dari satelit menunjukkan sebuah danau besar
menghilang di bawah gurun pasir Jazirah Arab setelah pengeringan selama
ribuan tahun. (dailymail)
Para ilmuwan mengatakan bahwa penemuan ini sangat penting untuk
mengetahui hakikat kehidupan di gurun Jazirah Arab, dan bagaimana proses
berevolusinya kehidupan manusia di sana serta penyebab migrasi manusia
dan hubungannya dengan iklim dan perubahannya.

Sesungguhnya fakta ilmiah membuktikan bahwa gurun pasir Arab
sebelumnya ditumbuhi oleh berbagi tumbuh-tumbuhan dengan sumber Air yang
terdapat disekitarnya. Para ilmuwan juga mencoba untuk memprediksikan
masa depan wilayah tersebut, namun Nabi Saw telah memberitahukan
Ummatnya tentang masa lalu dan masa depan gurun itu dalam Sabdanya:
“Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai tanah Arab kembali dipenuhi tumbuh-tumbuhan dan Sungai-sungai (HR. Muslim)
Baginda Rasulullah Saw telah mengkaitkan kebenaran hari kiamat
dengan fakta Ilmiah yang akan ditemukan oleh para ilmuwan setelah empat
belas abad supaya menjadi bukti atas kebenaran Risalah yang dibawahnya…
Dan yang menjadi Pertanyaannya adalah: Siapa yang memberitahukan Nabi
Muhammad Saw tentang penemuan ilmiah tahun 2012 tersebut? (eramuslim/kaheel7)
DNA Manusia Merekam Semua Perbuatan Manusia di Dunia
Posted by Unknown on
Filed within
Al-Hikmah

Salah satu hal yang sangat berperan dalam upaya kita meningkatkan takwa pada Allah SWT adalah mengingat mati dan kehidupan di akhirat. Bahwa semua makhluk tanpa kecuali akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Entah nanti, atau besok, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, kita semua pasti akan mati.
(Setiap makhluk hidup pasti akan mati). Dan kita, sebagai umat
Islam memang diperintahkan untuk sering-sering ingat mati agar hidup
kita menjadi baik. Nabi bersabda:(Perbanyaklah mengingat pemutus
keenakan duniawi).
Selanjutnya, berkaitan dengan kehidupan di akhirat, ada dua hal
utama yang harus selalu menjadi peringatan bagi kita. Pertama, bahwa
hidup di dunia ini teramat sangat sementara, dan hidup di akhirat itu
tiada batasnya.
Andaikan saja kita dikaruniai umur panjang sampai 100 tahun, maka sebenarnya itu hanyalah sepersepuluh hari akhirat. Sebab satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.
Andaikan saja kita dikaruniai umur panjang sampai 100 tahun, maka sebenarnya itu hanyalah sepersepuluh hari akhirat. Sebab satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.
Ini didasarkan pada ayat ke-7 surat As-Sajdah yang berarti:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNYA dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.
Jadi, secara matematis masa 100 tahun di dunia = 2 jam 24 menit
(menurut perhitungan akhirat). Lebih detil lagi, 1 jam akhirat = 41,66
tahun, 1 menit = sekitar 255 hari, dan 1 detik = 4,25 hari.
Kedua, bahwa semua perbuatan yang kita lakukan di dunia terekam
oleh tubuh kita. Kita harus tahu bahwa agama kita tidak mengajarkan apa
yang sering diungkapkan orang “surgo nunut neroko katut” (ke
surga numpang, ke neraka ikut). Karena yang benar adalah, orang masuk
surga karena amal baiknya, dan yang masuk neraka karena kesalahannya
sendiri.
Sehingga ada sebuah ilustrasi (penggambaran) di dalam al-Quran surat al-Anam ayat 94. Seolah-olah ketika nanti di hari Kiamat dan kita berbondong-bondong menuju pengadilan Allah, terpampang sebuah sepanduk besar yang artinya:
Sehingga ada sebuah ilustrasi (penggambaran) di dalam al-Quran surat al-Anam ayat 94. Seolah-olah ketika nanti di hari Kiamat dan kita berbondong-bondong menuju pengadilan Allah, terpampang sebuah sepanduk besar yang artinya:
Dan sungguh kalian telah datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kalian pada mulanya. Dan kalian tinggalkan di dunia apa yang telah Kami karuniakan pada kalian. dan Kami tiada melihat bersama kalian pemberi syafa’at yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu. Sungguh telah terputus hubungan-hubungan di antara kalian dan lenyaplah apa yang dahulu (di dunia) kalian anggap (sebagai sekutu Allah).
Kita lahir di dunia dari dua garba ibu sebagai pribadi-pribadi.
Tetapi kemudian kita dituntut untuk hidup yang baik. Dan kebaikan kita
di dunia ini selalu diukur secara sosial.
Perbuatan baik adalah perbuatan baik dalam konteks sosial. Itulah
makanya manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang harus selalu
memikirkan sesamanya.
Seperti dilambangkan dalam ucapan terakhir setiap kali kita shalat,
yaitu assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh (semoga keselamatan
dan keberkahan dari Allah senantiasa tercurah untuk kalian) sambil
menengok ke kanan dan kiri.
Seakan ini adalah peringatan dari Allah SWT, “Kalau kamu sudah melaksanakan salat untuk mengingatku, maka sekarang buktikan bahwa kamu mempunyai tekad baik untuk memperhatikan sesama makhluk di sekitarmu. Tengoklah kanan-kirimu karena masih banyak yang membutuhkan bantuan.”
Seakan ini adalah peringatan dari Allah SWT, “Kalau kamu sudah melaksanakan salat untuk mengingatku, maka sekarang buktikan bahwa kamu mempunyai tekad baik untuk memperhatikan sesama makhluk di sekitarmu. Tengoklah kanan-kirimu karena masih banyak yang membutuhkan bantuan.”
Jadi kita menjadi makhluk sosial di dunia ini. Tapi ketika kita
mati nanti, dan memasuki alam kubur, kita menjadi makhluk pribadi
kembali. Seluruh perbuata kita di dunia, baik dan buruk, hanya kita
sendiri yang menanggung.
Allah telah memperingatkan dalam surat Luqman ayat 33 yang artinya:
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kalian, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kalian.
Praktek pengadilan Ilahi di hari akhirat kelak telah dijelaskan dengan gamblang dalam surat Yasin ayat 65 yang artinya:
Pada hari itu Kami bungkam mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka, sedangkan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia.
Jadi, badan kita ini akan menjadi saksi. Jika mulut mencoba
mengingkari suatu tuduhan dalam pengadilan Allah nanti, maka yang akan
membantah adalah tangan kita sendiri, dan kaki kita akan menjadi saksi.
Ini adalah peringatan yang sangat kuat yang harus selalu kita renungkan.
Secara ilmiah kita bisa mengatakan bahwa badan kita ini memang bisa
menjadi saksi dari seluruh perbuatan kita. Sebuah teori mengatakan
bahwa sebenarnya segala kejadian di alam raya ini tidak ada yang hilang
tanpa terekam. Kejadian-kejadian itu terekam di angkasa juga di dalam
diri kita sendiri.
Sebagai contoh dari proses perekaman ini adalah fungsi DNA
(deoxyribonucleic acid) dan gen. DNA dan gen berfungsi sebagai perekam
semua bentuk dan karakter/watak kita. DNA terdapat di dalam gen, gen ada
di dalam kromosom, dan kromosom terdapat di dalam sel. Dan perlu kita
tahu bahwa semua makhluk hidup memiliki sel.
Baik DNA, gen, kromosom, dan sel, semuanya adalah benda-benda
mikroskopis (yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop). Tetapi justru di
dalam DNA itulah terekam seluruh informasi mengenai diri kita. Apakah
rambut kita ikal atau lurus, hidung kita pesek atau mancung, watak kita
penggembira atau gampang sedih, watak kita supel atau tertutup, semuanya
ada di dalam benda-benda yang tak terlihat oleh mata telanjang kita.
Oleh karenanya, jika al-Quran mengatakan bahwa badan kita menjadi
perekam dari seluruh perbuatan kita, adalah suatu hal yang benar adanya.
Karena di dalam tubuh kita ini terdapat milyaran DNA dan gen. Dan
semuanya itu kelak akan berbicara pada Allah SWT melalui tangan dan kaki
kita seperti dilukiskan di dalam surat Yasin ayat 65 tsb.
Maka dari itu, semua ini harus menjadi peringatan bagi kita. Hidup
di dunia hanya satu kali. Setiap kejadian yang kita alami hanya terjadi
sekali. Bahkan setiap detik, menit, dan jam, tidak mungkin terulang
lagi. Maka hendaknya kita terus berupaya meningkatkan kulaitas hidup
kita secara serius. Demikian semoga bermanfaat. (Ustadz Arif Hidayat, Lc/zilzaal.blogspot.com)
Ayat Suci dalam Kromosom Manusia
Posted by Unknown on
Filed within
Al-Hikmah

Seorang ilmuwan yang penemuannya sehebat Gallileo, Newton dan Einstein yang berhasil membuktikan tentang keterkaitan antara Alquran dan rancang struktur tubuh manusia adalah Dr. Ahmad Khan. Dia adalah lulusan Summa Cumlaude dari Duke University . Walaupun ia ilmuwan muda yang tengah menanjak, terlihat cintanya hanya untuk Allah dan untuk penelitian genetiknya.
Ruang kerjanya yang dihiasi kaligrafi, kertas-kertas penghargaan,
tumpukan buku-buku kumal dan kitab suci yang sering dibukanya,
menunjukkan bahwa ia merupakan kombinasi dari ilmuwan dan pecinta kitab
suci.
Salah satu penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan
adalah ditemukannya informasi lain selain konstruksi Polipeptida yang
dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya
adalah Surat “Fussilat” ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil-hasil
penemuan Profesor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada.
Penemuan tersebut diilhami ketika Khatib pada waktu shalat Jumat
membacakan salah satu ayat yang ada kaitannya dengan ilmu biologi. Bunyi
ayat tersebut adalah sebagai berikut:
“…Sanuriihim ayatinaa filafaaqi wa fi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu ul-haqq…”
Yang artinya;
“Kemudian akan Kami tunjukkan tanda-tanda kekuasaan kami pada alam dan dalam diri mereka, sampai jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran”.
Hipotesis awal yang diajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata “ayatinaa”
yang memiliki makna “Ayat Allah”, dijelaskan oleh Allah bahwa
tanda-tanda kekuasaanNya ada juga dalam diri manusia. Menurut Ahmad Khan
ayat-ayat Allah ada juga dalam DNA (Deoxy Nucleotida Acid) manusia.
Selanjutnya ia beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat Alquran
merupakan bagian dari gen manusia. Dalam dunia biologi dan genetika
dikenal banyaknya DNA yang hadir tanpa memproduksi protein sama sekali.
Area tanpa produksi ini disebut Junk DNA atau DNA sampah.
Kenyataannya DNA tersebut, menurut Ahmad Khan, jauh sekali dari
makna sampah. Menurut hasil hasil risetnya, Junk DNA tersebut merupakan
untaian firman-firman Allah sebagai pencipta serta sebagai tanda
kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir. Sebagaimana disindir oleh
Allah; Afala tafakaruun (apakah kalian tidak mau bertafakur atau
menggunakan akal pikiran?).
Setelah bekerjasama dengan adiknya yang bernama Imran, seorang yang
ahli dalam analisis sistem, laboratorium genetiknya mendapatkan proyek
dari pemerintah. Proyek tersebut awalnya ditujukan untuk meneliti gen
kecerdasan pada manusia. Dengan kerja kerasnya Ahmad Khan berupaya untuk
menemukan huruf Arab yang mungkin dibentuk dari rantai Kodon pada
cromosome manusia.
Sampai kombinasi tersebut menghasilkan ayat-ayat Alquran. Akhirnya
pada tanggal 2 Januari tahun 1999 pukul 2 pagi, ia menemukan ayat yang
pertama “Bismillahir Rahman ir Rahiim. Iqra bismirrabbika ladzi Khalq”;
“bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” .
Ayat tersebut adalah awal dari surat Al-A’laq yang merupakan surat
pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Anehnya
setelah penemuan ayat pertama tersebut ayat lain muncul satu persatu
secara cepat. Sampai sekarang ia telah berhasil menemukan 1/10 ayat
Alquran.
Dalam wawancara yang dikutip “Ummi” edisi 6/X/99, Ahmad Khan
menyatakan: “Saya yakin penemuan ini luar biasa, dan saya mempertaruhkan
karier saya untuk ini. Saya membicarakan penemuan saya dengan dua rekan
saya; Clive dan Martin seorang ahli genetika yang selama ini sinis
terhadap Islam. Saya menyurati dua ilmuwan lain yang selama ini selalu
alergi terhadap Islam yaitu Dan Larhammar dari Uppsala University Swedia
dan Aris Dreisman dari Universitas Berlin."
Ahmad Khan kemudian menghimpun penemuan-penemuanny a dalam beberapa
lembar kertas yang banyak memuat kode-kode genetika rantai kodon pada
cromosome manusia yaitu; T, C, G, dan A masing-masing kode Nucleotida
akan menghasilkan huruf Arab yang apabila dirangkai akan menjadi firman
Allah yang sangat mengagumkan.
Di akhir wawancaranya Dr. Ahmad Khan berpesan “Semoga penerbitan
buku saya “Alquran dan Genetik”, semakin menyadarkan umat Islam, bahwa
Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan
agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga non muslim
menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama.
Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan.
Penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami
prinsip-prinsip ilmu keperawatan yang digali dari agama Islam. Hal ini
dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decission maker)
yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level
pemerintah. Memfasilitasi serta memberi dukungan secara moral dan
finansial. Subhanallah, Allahu Akbar. (arrahmah.com)
Misteri Kematian dan Keajaiban Al Quran
Posted by Unknown on
Filed within
Al-Hikmah

Kematian sebagai salah satu dari fenomena kehidupan yang biasa terlihat di tengah-tengah kita, telah membuat ‘bingung’ para ahli biologi. Mereka dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi telah berusaha untuk menemukan hakikat dari kematian ini.
Namun kematian tetap saja, sebagai sebuah misteri, sangat sulit
untuk dipahami apalagi dihindari. Kemampuan manusia tidak akan dapat
mengetahui hakikatnya, karena keterbatasan kemampuan, sesuai yang
diberikan Allah.
Pada masa silam, manusia umumnya meyakini bahwa kematian merupakan
fenomena umum yang terjadi dan berhubungan dengan tubuh manusia, di mana
tubuhnya mengalami suatu proses kehilangan fungsi kehidupannya. Namun
dengan kemajuan ilmu biologi, mereka mendapatkan kesimpulan bahwa
kematian, ternyata melancarkan serangan yang menyebabkan sel-sel tubuh
mati dan kehilangan fungsinya.
Kematian sel-sel ini dimulai dengan kerusakan dan kematian zat-zat
yang terdapat dalam sel, akibat serangan mikroba dari luar tubuh sel,
yang tidak dapat dilawan oleh antibodi yang dimilikinya.
Dalam keadaan ini, kematian mengakibatkan perubahan yang terjadi pada fungsi dan kemampuan struktural yang dimiliki sel-sel hidup yang terdapat pada tubuh. Perubahan ini dapat langsung dirasakan oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan kematiannya. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa sel hidup yang terdapat dalam tubuh kita dapat merasakan ‘kematian’ ini.
Dalam keadaan ini, kematian mengakibatkan perubahan yang terjadi pada fungsi dan kemampuan struktural yang dimiliki sel-sel hidup yang terdapat pada tubuh. Perubahan ini dapat langsung dirasakan oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan kematiannya. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa sel hidup yang terdapat dalam tubuh kita dapat merasakan ‘kematian’ ini.
Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Alquran yang terdapat pada surah Ali Imran ayat 185 yang berbunyi:
"Tiap-tiap yang berjiwa (hidup) pasti akan merasakan maut."
Ungkapan Alquran yang menggabungkan makna dari kata ‘nafsun’ dengan makna dari kata ‘dza-iqotul maut’, menggambarkan hubungan antara apa yang dirasakan oleh 'nafsun' tersebut dengan ‘kematian’.
Dan cara pengungkapan yang memilih penggunaan kata subyek ‘dzaa-iq’ yang berasal dari kata 'dzaaqa', dan tidak menggunakan kata subyek ‘mutadzawwiq’ yang berasal dari kata 'tadzawwaqa' menggambarkan bahwa kematian pada mulanya, menimpa bagian dalam sel-sel tubuh, bukan bagian luarnya.
Hal ini sesuai dengan apa yang kita dapatkan dari hasil analisa sel yang membuktikan terdapatnya semacam ‘kesiapan sel untuk mati’ atau apa yang dapat kita sebut sebagai ‘batasan waktu kematian’ (al-miiqaat az-zamani lil maut).
Dan cara pengungkapan yang memilih penggunaan kata subyek ‘dzaa-iq’ yang berasal dari kata 'dzaaqa', dan tidak menggunakan kata subyek ‘mutadzawwiq’ yang berasal dari kata 'tadzawwaqa' menggambarkan bahwa kematian pada mulanya, menimpa bagian dalam sel-sel tubuh, bukan bagian luarnya.
Hal ini sesuai dengan apa yang kita dapatkan dari hasil analisa sel yang membuktikan terdapatnya semacam ‘kesiapan sel untuk mati’ atau apa yang dapat kita sebut sebagai ‘batasan waktu kematian’ (al-miiqaat az-zamani lil maut).
Di mana, sejak terciptanya suatu gen dari suatu sel tertentu,
sesungguhnya setiap sel telah memiliki sketsa yang mengatur kehidupan
dan fungsinya, serta batasan waktu berakhirnya fungsi sel tersebut atau
kematiannya. Sebagai buktinya, adalah kematian sebagian sel tubuh
sebelum datangnya serangan mikroba yang menyebabkan kematiannya.
Hal ini sebagaimana isyarat yang diberikan Alquran dalam surah
Yunus ayat 49. Allah SWT berfirman: "Katakanlah: "Aku tidak berkuasa
mendatangkan kemudaharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku,
melainkan apa yang dikehendaki Allah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal.
Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)."
Tentang waktu tertentu bagi kematian sel-sel hidup, juga dijelaskan dalam surah ar-Ra’d ayat 38. Allah SWT berfirman:
"Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)."
Kemudian, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa kematian
terkadang datang secara tiba-tiba tanpa didahului proses perubahan
biologis.
Mengenai hal ini, jika kita mau melihat ke dalam Alquran, maka kita
akan mendapatkan petunjuk mengenai kematian yang datang dengan
tiba-tiba, yaitu pada surah Al-Baqarah ayat 259, yang menceritakan tentang peristiwa yang terjadi pada seseorang hamba Allah yang saleh. Allah SWT berfirman:
"Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tingal di sini sehari atau setengah hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Pengungkapan Alquran dengan menggunaka huruf ‘fa’ dalam firman-Nya: "Fa amaatahullah" yang artinya: "Maka Allah mematikan orang itu", menggambarkan kejadian maut yang tiba-tiba yang menyebabkan terhentinya kehidupan di bagian dalam sel-sel tubuh.
Namun kematian sel-sel ini, tidak berarti hancurnya sel-sel
tersebut, karena melalui proses pemeliharaan (pembekuaan) sel-sel ini,
kehancurannya dapat dihindari. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh bagian
ayat di atas yaitu: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah
hari."
Dugaan di atas (dari hamba yang sholeh itu) yang menyatakan bahwa
dirinya telah tinggal di negri itu sehari atau setengah hari, didasarkan
pada apa yang dilihatnya dari kondisi fisiknya yang belem berubah dan
tidak adanya kerusakan pada sel atau organ tubuhnya.
Hal ini menjelaskan bahwa sel-sel tubuh meskipun telah mati, bisa
tetap dijaga sesuai keadaannya semula, jika dihindarkan dari sebab-sebab
yang bisa mengakibatkan kehancurannya (misalnya, dibalsem).
Dan proses ini, pada masa sekarang, bisa dilakukan oleh para ilmuwan dengan bantuan sains dan teknologi di bidang biologi yang telah berkembang pesat. (DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal/Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Alquran dan Sunnah)
Dan proses ini, pada masa sekarang, bisa dilakukan oleh para ilmuwan dengan bantuan sains dan teknologi di bidang biologi yang telah berkembang pesat. (DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal/Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Alquran dan Sunnah)
Ayat Al Quran tentang Sifat-sifat Buruk Yahudi
Posted by Unknown on
Filed within
Al-Hikmah

Dalam Al-quran, sudah demikian jelas sedikitnya disebutkan 22 sifat buruk bangsa Yahudi. Apa saja?
Berikut di bawah ini:
- 1. Keras hati dan zalim (Al-Baqarah:75,91,93,120,145,170; An-Nisa:160; Al-Maidah:41)
- 2. Kebanyakan fasik dan sedikit beriman kepada Allah SWT (Ali Imran:110; An-Nisa:55)
- 3. Musuh yang paling bahaya bagi orang-orang Islam (Al-Maidah:82)
- 4. Amat mengetahui kekuatan dan kelemahan orang-orang Islam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri (Al-An’am:20)
- 5. Mengubah dan memutarbalikkan kebenaran (Al-Baqarah:75,91,101,140,145,211; Ali Imron:71,78; An-Nisa:46; Al-Maidah:41)
- 6. Menyembunyikan bukti kebenaran (Al-Baqarah:76,101,120,146; Ali Imron:71)
- 7. Hanya menerima perkara-perkara atau kebenaran yang dapat memenuhi cita rasa atau nafsu mereka (Al-Baqarah:87,101,120,146; Al-Maidah:41)
- 8. Ingkar dan tidak dapat menerima keterangan dan kebenaran AlQuran (Al-Baqarah:91,99; Ali Imron:70)
- 9. Memekakkan telinga kepada seruan kebenaran, membisukan diri untuk mengucapkan perkara yang benar, membutakan mata terhadap bukti kebenaran dan tidak menggunakan akal untuk menimbangkan kebenaran (Al-Baqarah:171)
- 10. Mencampuradukkan yang benar dan yang salah, yang hak dan yang batil (Ali Imran:71)
- 11. Berpura-pura mendukung orang Islam tetapi apabila ada di belakang orang-orang Islam, mereka mengutuk dengan sekeras-kerasnya (Al-Baqarah:76; Ali Imran:72,119)
- 12. Hati meraka sudah tertutup akan Islam kerana dilaknat oleh Allah SWT yang disebabkan oleh kekufuran mereka sendiri (Al-Baqarah:88,120,145,146)
- 13. Kuat berpegang pada rasa kebangsaan mereka dan mengatakan bahwa mereka adalah bangsa yang istimewa yang dipilih oleh Tuhan dan menyakini agama yang selain daripada Yahudi adalah salah (Al-Baqarah:94,111,113,120,135,145; Al-Maidah:18)
- 14. Tidak akan ada kebaikan untuk seluruh manusia jika mereka memimpin (An-Nisa:53)
- 15. Tidak suka, dengki, iri hati terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:90,105,109,120)
- 16. Mencintai kemewahan dan kehidupan dunia, bersifat tamak dan rakus, menginginkan umur yang panjang dan mengejar kesenangan serta takut akan kematian (Al-Baqarah:90,95,96,212)
- 17. Berkata bohong, mengingkari janji dan melampaui batas (Al-Baqarah:100,246,249 Ali Imran:183,184; An-Nisa:46)
- 18. Berlindung di balik mulut yang manis dan perkataan yang baik (Al-Baqarah:204,246; Ali Imron:72; An-Nisa:46)
- 19. Mengada-ada perkara-perkara dusta dan suka kepada perkara-perkara dusta (Ali Imran:24,94,183,184; Al-Maidah:41)
- 20. Berlaku sombong dan memandang rendah terhadap orang-orang Islam (Al-Baqarah:206,212,247)
- 21. Tidak amanah dan memakan hak orang lain dengan cara yang salah (Ali Imran:75,76; At-Taubah:34)
- 22. Selalu melakukan kerusakan dan menganjurkan peperangan (Ali Imran:64)
(islamsiana)





